Friday, September 13, 2019

CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM TES INTELIGENSI WISC



RAHASIA
 
CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM
TES INTELIGENSI
W I S C

Dosen Pengampu :
XXXXXX




Disusun Untuk Memenuhi Laporan Praktikum
Mata Kuliah Tes Intelegensi

Oleh :
Nama               : XXX
NIM                 : XXX

Asisten :
Nama               : XXXXX
NIM                 : XXXX



FAKULTAS PSIKOLOGI
XXXXXXXXXX
2015


TESTEE KE-1



HASIL OBSERVASI
PRAKTIKUM TES WISC
TESTEE KE-1

A.    IDENTITAS
Nama                                : Mahesa Loppy Pardede
Jenis Kelamin                   : Laki-laki
Pekerjaan                          : Pelajar
Pendidikan                       : SD
Tanggal Lahir                   : Banyumas, 13 Juli 2001
Umur                                : 14
Tester                                : X
Tanggal Tes                      : 28 Novmber 2015

B.     OBSERVASI
1.      Tes Verbal
a.       Informasi
        Pada saat subtes Informasi ini, testee menggunakan kaos berwarna putih dan jaket berwarna biru, memakai celana jeans berwarna biru dan sepatu biru. Testee mempunyai tinggi 156 cm. Pada subtes ini testee cukup cepat menjawab semua pertanyaan yang ada. Testee sering menggerakkan kaki, dan menaruh tangannya pada meja. Situasi yang terjadi saat testee menjawab subtes informasi tidak ada suara yang mengganggu. Pada subtes Informasi ini, testee berhasil memperoleh Skor mentah 23 dan Skor Skala 14.
b.      Pengertian
        Pada subtes Pengertian ini, testee menjawab 11 nomor dengan benar, testee menjawab soal nomor 1 sampai nomor 4 dengan mengayun ke dua lutut kaki. Pada saat menjawab soal nomor 8, testee menggaruk-garuk lehernya dengan tangan kanan. Pada saat menjawab soal nomor 9 sampai dengan nomor 14 testee merapikan rambutnya, melihat ke kanan dan ke kiri, mengayunkan lutut kanannya dan merubah posisi duduknya. Situasi tes saat terdengar pelan suara tester lain. Pada subtes Pengertian ini, testee berhasil memperoleh Skor Mentah 22 dan Skor Skala 16.


c.       Hitungan
Pada subtes Hitungan ini, testee hanya bisa menjawab 11 soal. Saat menjawab soal-soal tersebut, testee beberapa kali merubah posisi duduknya, menaruh tangan diatas meja, membunyikan jari-jari dan menghitung dengan jari tangan. Pada saat menjawab soal nomor 4, testee melepaskan jaket dan menaruhnya di sebelah meja dengan mengatakan “Mas boleh dilepas jaketnya ?”. Situasi pada saat subtes Hitungan ini terdengar pelan suara tester lain. Pada subtes Hitungan ini, testee berhasil memperoleh Skor mentah 11 dan Skor Skala 16.
d.      Persamaan
      Pada subtes Persamaan ini, testee menanyakan “Contohnya gimana mas ?”. Testee dapat menjawab 6 soal dengan benar. Pada saat menjawab soal nomor 6, testee menggaruk-garuk kepalanya dengan tangan kanan. Pada saat menjawab soal nomor 11, testee testee tersenyum dan menoleh ke kanan serta ke kiri. Pada saat menjawab soal nomor 16, testee mengayunkan lutut kirinya. Saat subtes Persamaan ini berlangsung situasi tenang karena testee dan tester sibuk dengan pertanyan dan jawaban masing-masing. Pada subtes Persamaan ini, testee berhasil memperoleh Skor Mentah 12 dan Skor Skala 9.
e.       Perbedaharaan Kata
      Pada subtes Perbendaharaan Kata ini, testee dapat menjawab 31 soal dengan benar. Pada saat menjawab soal nomor 13, testee memperagakan dengan tangan kananya memegang pedang dengan mengatakan “Untuk menebas”. Pada saat menjawab nomor 17, testee tersenyum dan menggelengkan kepala. Pada saat menjawab soal nomor 21 sampai 40, testee berpindah posisi duduk, terkadang menaruh tangannya di atas meja dan terkadang menaruh tangannya dipangkuannya. Situasi pada saat subtes Perbendaharaan Kata ini  turun hujan. Pada subtes Perbendaharaan Kata ini, testee memperoleh Skor Mentah 61 dan Skor Skala 16.





2.      Tes Performance
a.       Melengkapi Gambar
        Pada saat subtes Melengkapi Gambar, testee tidak bisa menjawab 4 nomor. Testee menunjuk dengan jari telunjuk pada saat menjawab soal nomor 3, 5, 9 dan 19. Testee tersenyum ketika menjawab soal nomor 4 dan 10. Pada saat menjawab soal nomor 1, 2 dan 3 testee memegang ujung meja dengan kedua tangannya. Situasi pada saat subtes ini terdengar suara tester lain . Pada subtes Melengkapi Gambar  ini, testee memperoleh Skor Mentah 16 dan Skor Skala 13.
b.      Mengatur Gambar
        Pada saat subtes Mengatur Gambar, testee mengatakan “Ini gimana mas ?”. testee dapat menyelesaikan 5 soal dengan benar. Testee tersenyum ketika tester memberi tahukan bahwa jawaban nomor 1, 2, 3 dan 4 yang testee susun benar. Pada saat menyusun gambar testee membungkukkan badannya dan menganyunkan kakinya. Situasi pada saat subtes Mengatur Gambar ini berlangsung ramai karena beberapa tester sudah selesai praktikum dan suhu udara dingin. Pada subtes Mengatur Gambar ini, testee memperoleh Skor Mentah 25 dan Skor Skala 7.
c.       Rancangan Balok
        Pada saat subtes Rancangan Balok, testee dapat menyelesaikan semua bentuk dengan benar. Pada saat merancang balok nomor 1 sampai 2, testee meletakkan kakinya pada pijakan kursi dan mengerak-gerakannya. Pada saat menyelesaikan nomor 3 testee mengatakan “yahhh”, karena mati lampu. Situasi saat tes kurang ramai karena mati lampu dan berpindah ke ruang lebih terang. Pada subtes Rancangan Balok ini, testee memperoleh Skor Mentah 45 dan Skor Skala 13.
d.      Merakit obyek
        Pada saat subtes Merakit Obyek, testee menyelesaikan nomor 1 dan 2 dengan tersenyum dan mengayunkan kaki di atas pijakan kursi. Pada saat mengerjakan soal nomor 3 dan 4, testee sering menggelengkan kepala dan mengatakan “cek,cek,cek”. Situasi pada saat tes berlangsung cahaya penerangan kurang terang dan hujan turun dengan deras. Pada subtes Merakit Obyek ini, testee memperoleh Skor Mentah 26 dan Skor Skala 11.

e.       Simbol
        Pada subtes Simbol ini, saat petunjuk diterangkan oleh tester, testee menggigit jempolnya dan mengatakan “Oo… yaa ya ya”. Testee dapat menyelesaiakan 64 simbol dengan benar. Pada saat subtes ini berlangsung, keadaan luar ruangan masih hujan dan terdengar beberapa kali petir. Pada saat subtes ini keadaan ruangan ramai dikarenakan beberapa tester dan testee sudah selesai. Pada subtes Simbol ini, testee memperoleh Skor Mentah 64 dan Skor Skala 14.


C.    KESIMPULAN
Secara keseluruhan, tes berjalan dengan lancar dan cukup kondusif, hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya sesuatu yang menganggu dan menghambat jalannya tes. Testee sangat semangat dalam mengikuti Tes WISC ini sehingga hasil yang diraih juga maksimal.
Testee menunjukan perilaku sebagai respon yang ditunjukkan pada saat tes diantaranya yaitu berapa kali testee terlihat tersenyum, menggelengkan kepala, menoleh ke kanan dan ke kiri, membungkuk, memegang meja, mengayunkan dan menggerakkan kaki. Skor yang diperoleh testee :
Jumlah Skala Verbal                           :           76                        IQ : 133
Jumlah Skala  Performance                   :           58                        IQ : 121
Angka Skala Lengkap                           :           134                      IQ : 125
Klasifikasi IQ yang di peroleh oleh testee adalah 125 dan termasuk dalam kategori Superior.


Share:

TES INTELEGENSI


 














Share:

CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM TES INTELIGENSI BINET



 
CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM
TES INTELIGENSI
BINET

Dosen Pengampu :
XXXXXXXXXXXXX

 
  


Disusun Untuk Memenuhi Laporan Praktikum
Mata Kuliah Tes Intelegensi

Oleh :
Nama   : XXXXXXXX
NIM     : XXXXXXXX

Asisten :
Nama   : XXXXXXXX
NIM     : XXXXXXXX



FAKULTAS PSIKOLOGI
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
2015



TESTEE KE-1
HASIL OBSERVASI
PRAKTIKUM TES BINET
TESTEE KE-1
A.    IDENTITAS
Nama                                : Anayu Zein Sabara (Perempuan)
Tanggal                             : Tahun         Bulan      Hari
Testing                              : 2015           11            27
Lahir                                 : 2007           06            28
Umur                                : 8                 4              29
Tempat Lahir                    : Banyumas
Alamat                              : Karangsoka, Rt 4 / Rw 1
Sekolah                             : SDN Karangsoka
Nama Ayah                      : Anas Isnaini Sabara
Pekerjaan                          : Wiraswasta
Nama Ibu                         : Indri Wahyuti
Pekerjaan                          : Ibu Rumah Tangga
Alamat                              : Karangsoka Rt 4/ Rw 1
Tester                                : XXXXXXXXXXXXX
Konsultan/Pembimbing    : XXXXXXXXXXXXXXX
Keterangan                       : Tidak ada halangan ataupun hambatan yang dapat menganggu pelaksanaan tes, sehingga tes berjalan dengan lancar. Testee basal pada tahun ke VI dan ceilling pada tahun ke XIV. Testee menunjukkan beberapa perilaku sebagai respon diantaranya : memegang botol, tersenyum, menggelengkan kepala, sedikit merubah posisi kaki, menanyakan “ulangi lagi kak”, menghitung dengan menunjuk jari.

B.     OBSERVASI
a.       Tahun VI  (Basal)
        Testee menggunakan baju daster berwarna pink bercorak bunga-bunga, menggunakan sandal jepit, dengan rambut lurus sebahu. Testee dapat menjawab soal tahun VI dengan benar semua. Saat subtes Perbendaharaan Kata, testee dapat menjawab dengan benar sesuai ketentuan, testee mengayun-ayunkan kakinya, melirikkan mata ke sekeliling ruangan. Pada subtes gambar yang tidak lengkap, dapat dengan cepat testee selesaikan ketika tester menunjukan gambar. Saat menjawab subtes Analogi testee sudah membawa botol air minum sehingga kedua tangan testee memegang botol air minum tersebut. Situasi disekitar pada saat subtes ini, tidak banyak suara dan hanya terdengar lirih suara tester lain. Pada subtes tahun VI ini, testee mengalami basal. Dimana testee dapat menjawab semua soal dan berhasil memperoleh jumlah nilai 6 pada subtes ini.
b.      Tahun VII ( 5+ )        
         Pada subtes tahun VII ini, tentang keanehan gambar testee paham dengan gambar, akan tetapi testee tidak dapat menjelaskan letak keanehannya sehingga testee tidak  mendapatkan nilai pada sub ini. Pada subtes kesamaan benda testee menjawab 3 poin dengan benar. Testee menjawab sambil menggerak-gerakan kakinya dan menatap tester dengan seksama. Testee mengulang 5 angka dengan baik dan benar semua. Situasi pada saat tes hanya terdengar sedikit suara tester lain. kondusif, tidak gaduh. Pada subtes tahun ke VII ini, testee hanya dapat memperoleh jumlah nilai 5.
c.       Tahun VIII ( 5+ )      
         Pada subtes tahun VIII ini, testee dapat menyelesaikannya dengan cepat, testee ketika ditanya terkadang mengayunkan kakinya.Testee menjawab dengan kedua tangan selalu memegang botol minuman, meminum air botol dan sedikit berganti posisi duduk. Testee menggerak-gerakan kepala, membawa botol minum dipangkuannya. Situasi pada saat tes ini ada beberapa tester yang meminjam alat tetapi tidak menganggu jalannya tes ini. Pada subtes tahun ke VIII ini, testee hanya dapat memperoleh jumlah nilai 5.
d.      Tahun IX ( 5+ )         
         Pada subtes tahun IX ini, testee saat menjawab nomor satu dengan mengayunkan kaki dan senyum. Keanehan verbal II testee menjawab sambil mengelengkan kepala, sedikit tersenyum dan mengayunkan kaki. Saat menghitung 4 angka terbalik, testee mengatakan “Tadi apa kak yang pertama ?”. Situasi terdengar sedikit suara dari tester yang lain. Pada subtes tahun ke IX ini, testee hanya dapat memperoleh jumlah nilai 5.
e.       Tahun X ( 2+ )          
         Pada subtes tahun X ini, testee saat menjawab sambil  mengayunkan kaki dan senyum. Pada subtes tahun X ini, testee dapat menghitung balok dengan benar 12 nomor. Testee menghitung menggunakan telunjuk jarinya dan bersuara tidak terlalu keras. Testee menaruh tangannya di atas meja. Testee tidak banyak menoleh ke sekitar ruangan dan tetap terfokus pada tester. Testee mengulang angka dengan benar 2 nomor dan testee juga sempat mengatakan “Tadi apa kak ?”. Testee menjawab dengan menganggukkan kepala. Situasi terdengar sedikit suara dari tester yang lain. Pada subtes tahun ke X ini, testee hanya dapat memperoleh jumlah nilai 2.
f.        Tahun XI ( 1+ )         
         Pada subtes tahun XI ini, soal nomor satu mengingat desain dapat diselesaikan dengan benar dan cepat. Saat menggambar, testee menunduk dan tersenyum ketika melihat tester. Testee hanya dapat menyelesaikan satu nomor saja. Situasi  pada saat itu beberapa testee dan tester sudah selesai melakukan tes. Pada subtes tahun ke XI ini, testee hanya dapat memperoleh jumlah nilai 1.
g.      Tahun XII ( 2+ )        
         Pada saat subtes tahun XII ini, tidak bisa menjawab menggeleng-gelengkan kepala,  mengayunkan kaki dan tersenyum. Mengulang 5 angka dengan terbalik testee dapat menyelesaikannya dengan benar 2 nomor dan testee mengatakan “tadi apa kak yang pertama ulangi kak!”. Testee dapat melengkapi kata dengan benar, sambil berfikir testee melihat  ke arah tester dan mengerakkan sedikit kakinya. Situasi pada saat subtes tahun ke XII ramai karena beberapa tester dan testee sudah selesai. Pada subtes tahun ke XII ini, testee hanya dapat memperoleh jumlah nilai 2.
h.      Tahun XIII ( 2+ )      
         Pada subtes tahun XIII ini, testee menggambar dengan senyum. Testee menanyakan “Sudah kak?”. Mengingat kalimat testee sempat terbalik-balik dalam mengurutkannya. Soal mengenai masalah kenyataan, testee menjawab dengan benar 2 nomor, “Orang menggantung, mati” kata testee. Situasi ramai karena beberapa tester dan testee sudah selesai Pada subtes tahun ke XIII ini, testee hanya dapat memperoleh jumlah nilai 2.
i.        Tahun XIV adalah Ceilling
         Pada subtes tahun ke XIV ini, testee tidak bisa menjawab menggeleng-ggelangkan kepala,  mengayunkan kaki dan tersenyum. Testee tidak bisa menjawab semua soal yang ada dan testee memegang botol air minum di atas meja dengan kedua tangannya. Situasi ramai karena beberapa tester dan testee sudah selesai Pada subtes tahun ke XIV ini, testee mengalami ceiling dan memperoleh jumlah nilai nol.
C.    KESIMPULAN
         Dalam tes BINET ini, testee bersikap memegang botol, tersenyum, menggelengkan kepala, sedikit merubah posisi kaki, menanyakan “Ulangi lagi kak”, menghitung dengan menunjuk jari. Beberapa perilaku tersebut merupakan respon yang ditunjukkan testee pada saat tes berlangsung.
Hasil IQ testee adalah
IQ                                     : 115
Berdasarkan klasifikasi menurut BINET, testee masuk pada kategori Rata-rata Atas (High Average).

Share:

Aplikasi Teori Pavlov Dalam Pembelajaran Sekolah Dasar (SD)


Aplikasi Teori Pavlov
Dalam Pembelajaran Sekolah Dasar (SD)
Pengampu: Dra. Tri Naimah

  
DISUSUN OLEH:

1.      Windi Anggraeni                                (1407010047)
2.      Vinda Dian Rimadhani                       (1407010051)
3.      Putri Adinda Silmy                             (1407010052)
4.      Saffanah Tri Mulyani                          (1407010053)
5.      Tedy Dhea Pratiwi                              (1407010055)
6.      Wanda Putri Wahyu Iriani Latukau    (1407010060)
7.      Apriani Dwi Lestari                            (1407010061)
8.      Meliana Dwi Ariska                            (1407010063)



A.     Pendahuluan
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa semenjak manusia pertama lahir didunia telah melakukan usaha-usaha pendidikan. Manusia juga berusaha mendidik anak-anaknya walaupun dengan cara yang sangat sederhana. Kewajiban bagi setiap pendidik untuk bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya, yakni harus berbuat dengan cara yang sesuai dengan keadaan anak didik.  Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefinisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi pengajar dalam menjalankan model-meodel pembelajaran yang akan dilaksanakan. Teori belajar merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengkondisian situasi belajar dalam usaha pencapaian perubahan tingkah laku yang diharapkan.
B.      Pembahasan
1.       Proses Ekperiment
            Menurut Pavlov dalam buku Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang teori belajarnya dikembangkan dari percobaan terhadap anjing. Dalam percobaan laboratoris tersebut, kepada anjing diberi stimulus bersyarat dan anjing akan memberikan reaksi disebut pula dengan reaksi bersyarat.
Secara singkat jalannya percobaan adalah sebagai berikut:
a)      Kepada anjing diperlihatkan makanan (anjing dalam keadaan lapar). Dalam percobaan tersebut anjing mengeluarkan air liur, jadi ada reaksi. Makanan disebut stimulus tak bersyarat (unconditioning stimulus) dan mengeluarkan air liur disebut reaksi tak bersyarat (unconditioning respons).
b)      Kepada anjing diperlihatkan sinar (anjing tetap dalam keadaan lapar). Ternyata tidak terlihat keluarnya air liur. Pavlov ingin mencoba agar anjing dapat dibuat bereaksi terhadap sinar, artinya anjing mengeluarkan air liur bila melihat sinar yang diperlihatkan kepadanya. Caranya ialah dengan memberi persyaratan berupa makanan yang secara alami (wajar) dapat menimbulkan reaksi. Prosesnya sebagai berikut:
c)      Sinar disorotkan, beberapa detik kemudian makanan diperlihatkan. Pada percobaan terlihat mula-mula air liur tidak keluar, tetapi setelah melihat makanan, baru anjing bereaksi. Dalam hal ini belum terjadi peristiwa “belajar” pada anjing.
d)      Percobaan seperti pada poin c) diulang dengan jarak waktu pemberian makanan yang bervariasi.
Akhirnya pada frekuensi tertentu dan jarak waktu pemberian makanan tertentu, Pavlov berhasil membuat anjing bereaksi terhadap sinar tanpa diikuti pemberian makanan. Dengan kata lain disebut bahwa stimulus (sinar) telah disyarati dengan makanan. Oleh karena itu disebut stimulus bersyarat dan peristiwa keluarnya air liur karena melihat sinar disebut respon bersyarat.
Kemudian Pavlov melanjutkan percobaannya dengan mengobservasi terus-menerus reaksi anjing bila kepadanya diperlihatkan sinar. Ternyata dalam frekuensi tertentu, reaksi mengeluarkan air liur makin melemah baik kecepatan maupun volume air liur yang keluar (yang ditampung dalam gelas percobaan). Kalau anjing terlalu lama tidak melihat makanan, maka anjing tak mampu lagi bereaksi terhadap sinar. Dalam hal ini terjadi peristiwa ekstingsion (extinction). Jadi extinction adalah peristiwa melemah sampai kepada hilangnya hubungan respon dan stimulus disebabkan hilangnya kondisi (syarat).
2.       Inti Teori
Menurut  Pavlov dalam buku Muhibbin Syah teori conditioning belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response).untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning  ialah adanya latihan-latihan yang continue (terus-menerus). Yang diutamakan dalam teori ini adalah hal belajar terjadi secara otomatis.Jadi, teori belajar menurut teori Classical Conditioning merupakan respon yang akan berlangsung sebagai akibat dari terjadinya pengasiosian ganjaran (reward) sebagai kondisi dan rangsangan sebagai stimulus.



3.      Aplikasi

             Aplikasinya teori dalam pembelajar Sekolah Dasar (SD). Bunyi bel di kelas untuk penanda waktu masuk, waktu istirahat dan waktu pulang. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi intruksi singkay yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarti dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
C.      Penutup
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah :
1. Belajar adalah perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh adanya stimulus dari lingkungan sekitar. 
2. Berdasarkan percobaan Pavlov jika Stimulus tak terkondisi (US) dipasangkan dengan Stimulus terkondisi (CS), maka akan membentuk Respons tidak terkondisi (UR). 
3. Jika dilakukan percobaan yang sama (penggabungan US dan CS)secara berulang-ulang (reinforcement / penguatan), maka akan menimbulkan Respos terkondisi (CR). Bahkan, dengan tanpa menggunakan US sekalipun ( hanya menggunakan CS).
4. Jika digunakannya CS tanpa US secara terus-menerus, maka akan menyebabkan sebuah penghapusan respon atau extinction.  
5. Prinsip belajar menurut Pavlovian adalah penguatan dan perubahan tingkah laku.
  





D.     Daftar Pustaka
·         Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang.1990.Psikologi Belajar.Semarang: IKIP Semarang Press.
·         Syah, Muhibbin. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers.

Share:
Powered by Blogger.